Disusun oleh : Farha Nurmiatiari Zain, S.Gz (Nutritionist Ray Little Bites dan Personal Growth ID, Universitas Indonesia)
Pemenuhan kebutuhan gizi pada usia dini berperan penting dalam menentukan tumbuh kembang anak di masa mendatang. Pada usia anak-anak, tubuh membutuhkan asupan zat gizi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan otak, daya tahan tubuh, serta kemampuan belajar dan aktivitas harian anak. Oleh karena itu, pemilihan makanan yang diberikan harus tepat, tidak hanya terpaku pada kuantitas, namun juga kualitasnya. Makanan yang berkualitas tidak selalu merupakan makanan yang mengenyangkan melainkan makanan yang sesuai dengan prinsip gizi seimbang.
- Gizi Seimbang
Gizi seimbang merupakan susunan komposisi makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak), zat gizi mikro (vitamin dan mineral), dan serat dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan anak sesuai kelompok usianya. Dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, anak memperoleh energi dan zat gizi yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
- Karbohidrat : Berfungsi sebagai sumber energi utama bagi tubuh, membantu fungsi kerja otak, mendukung fungsi kerja pencernaan, dan mengatur metabolisme lemak dan protein.
- Protein : Berperan dalam membangun dan memperbaiki jaringan tubuh; Berperan dalam membentuk enzim, hormon, dan antibody (system imun); Menjaga keseimbangan cairan dan pH tubuh; Serta menyediakan energi cadangan bagi tubuh.
- Lemak : Berfungsi sebagai sumber cadangan energi; Melindungi organ tubuh; Membantu penyerapan vitamin A, D, E, dan K; Menyusun struktur sel; Serta untuk menghasilkan hormon.
- Vitamin : Beperan dalam menjaga daya tahan tubuh; Mendukung pertumbuhan dan perbaikan sel; Mengatur metabolisme; Sebagai antioksidan; Serta menjaga kesehatan mata, kulit, dan tulang.
- Mineral : Berperan dalam mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit, membantu fungsi saraf dan otot, mendukung metabolisme, menjaga daya tahan tubuh, serta membantu transportasi oksigen.
- Serat : Berfungsi untuk melancarkan pencernaan, menjaga kesehatan usus, mengontrol gula darah, dan menurunkan kolesterol
- Air : Berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh, mengatur suhu tubuh, melarutkan dan mengangkut zat gizi, dan membuang zat sisa metabolisme.
- Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Gizi Harian Anak
Kebutuhan gizi bersifat dinamis. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kebutuhan gizi yaitu : Usia, jenis kelamin, Berat Badan, Tinggi Badan, Faktor Aktivitas, dan Faktor Stress.

Diagram 1. Kebutuhan Makronutrien (Karbohidrat, Protein, dan Lemak) Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia Sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG).
Diagram garis di atas menunjukkan bahwa kebutuhan gizi berubah sepanjang siklus kehidupan. Semakin bertambah usia, maka kebutuhan energi dan zat gizi meningkat. Perubahan kebutuhan zat gizi mengikuti pertumbuhan tubuh, peningkatan massa otot, aktivitas fisik, dan perkembangan organ. Memasuki masa remaja, terjadi lonjakan kebutuhan energi karena pertumbuhan fisik anak yang cepat. Anak laki-laki pada usia remaja umumnya memerlukan energi lebih tinggi dibandingkan perempuan karena massa otot dan laju pertumbuhannya lebih besar.
Selain faktor jenis kelamin dan usia, kebutuhan gizi juga dipengaruhi oleh Faktor Aktivitas dan Faktor Stress. Faktor Aktivitas adalah faktor pengali yang menggambarkan rata-rata tingkat aktivitas fisik (bed rest, gaya hidup sedentary, aktivitas fisik ringan, aktivitas fisik sedang, sampai aktivitas fisik berat) harian kita. Semakin berat tingkat aktivitas fisik, maka faktor pengalinya semakin besar. Sedangkan Faktor Stress adalah faktor pengali yang menunjukkan peningkatan kebutuhan energi akibat kondisi penyakit, cedera, atau stres metabolik yang sedang dialami. Penyakit atau trauma tertentu membuat metabolisme tubuh menjadi lebih tinggi, akibatnya tubuh membutuhkan lebih banyak energi. Semakin berat masalah kesehatan yang menyertai, maka semakin besar faktor pengalinya.

Gambar 1. Faktor Aktivitas dan Faktor Stress dalam Perhitungan Kebutuhan Energi pada Anak.
- Cara Menghitung Kebutuhan Energi Harian Anak
Sebelum menghitung kebutuhan energi total atau Total Daily Energy Expenditure (TDEE), kita harus terlebih dahulu menghitung Basal Metabolic Rate (BMR) atau kebutuhan energi basal, salah satunya menggunakan rumus Schofield. Rumus ini dapat digunakan sebagai rumus perhitungan kebutuhan energi pada anak usia 0-18 Tahun. Berikut adalah rumus untuk mengetahui Basal Metabolic Rate (BMR) atau kebutuhan energi basal:
• Anak laki-laki 0–3 tahun = (0,167 × BB) + (15,174 × TB) – 617,6
• Anak perempuan 0–3 tahun = (16,252 × BB) + (1,618 × TB) – 413,5
• Anak laki-laki 3–10 tahun = (19,49 × BB) + (1,303 × TB) – 414,9
• Anak perempuan 3–10 tahun = (16,969 × BB) + (1,618 × TB) + 371,2
• Anak laki-laki 11–18 tahun = (16,25 × BB) + (1,372 × TB) + 510,5
• Anak perempuan 11–18 tahun = (18,365 × BB) + (4,56 × TB) + 200
Setelah memperoleh nilai BMR, kita hitung kebutuhan energi total atau Total Daily Energy Expenditure (TDEE) dengan rumus:
- Kebutuhan Energi Total (TDEE) = BMR × Faktor Aktivitas × Faktor Stres.
Contoh kasus :
Anak perempuan usia 3 tahun 6 bulan dengan berat badan 13,5 kg dan tinggi badan 92 cm dengan aktivitas fisik moderat, sedang mengalami demam 39°C. Perhitungannya menjadi sebagai berikut :
Rumus Schofield untuk Anak Perempuan (3-10 Tahun)
- BMR = (16,969 x 13,5 kg) + (1,618 x 92 cm) + 371,2 = 748,8 kkal
- TDEE = BMR x FA x FS = 748,8 x 1,4 x 1,24 = 1300 kkal per hari
- Menghitung Kebutuhan Makronutrien Harian (Karbohidrat, Protein, dan Lemak)
Dari total energi harian, dianjurkan terdiri dari protein 10–20%, lemak 25–40%, dan karbohidrat 40–65%. Karbohidrat tetap menjadi sumber energi utama, protein difokuskan untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan, sedangkan lemak berfungsi sebagai sumber cadangan energi dan membantu penyerapan vitamin larut lemak. Estimasi kebutuhan makronutrien harian bisa dilihat dari pedoman Piring Makanku. Pedoman ini memudahkan masyarakat menerapkan gizi seimbang. Pada anak usia 6–23 bulan, komposisi makanan disesuaikan dengan tahap MPASI sehingga tekstur dan porsi meningkat bertahap, dengan penekanan pada sumber protein hewani dan variasi pangan. Pada balita usia 2–5 tahun, setengah piring diisi sayur dan buah, sedangkan setengah lainnya terdiri atas makanan pokok dan lauk berprotein sesuai kebutuhan energi. Pada usia di atas 5 tahun hingga dewasa, prinsip yang digunakan adalah setengah piring buah dan sayur (dengan porsi sayur lebih banyak daripada buah) dan setengah piring makanan pokok serta lauk (dengan porsi makanan pokok lebih banyak daripada lauk).

Gambar 2. Pedoman Isi Piring Makanku Berdasarkan Golongan Usia Sesuai dengan Pedoman Kemenkes RI
- Batasi Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak
WHO merekomendasikan agar konsumsi gula pada anak maupun dewasa dibatasi hingga kurang dari 10% total energi harian, bahkan dianjurkan kurang dari 5% total energi untuk memperoleh manfaat kesehatan tambahan, terutama dalam mencegah karies gigi dan obesitas. Rekomendasi berdasarkan Kementerian Kesehatan RI dan WHO:
- Usia 6–12 bulan: Tidak dianjurkan pemberian gula dan garam tambahan; lemak berasal dari ASI dan MPASI.
- Usia 12–24 bulan: Gula tambahan seminimal mungkin (<25 gram/hari), garam <2 gram garam/hari, lemak 30–40% energi.
- Usia 2–5 tahun: Gula tambahan maksimal 25 gram (±6 sendok teh)/hari; garam maksimal 5 gram (±1 sendok teh)/hari; minyak/lemak sekitar 35–50 gram/hari atau 20–35% energi.
- Usia 5–12 tahun: Gula maksimal 25 gram/hari; garam maksimal 5 gram/hari; lemak 20–35% dari total energi harian.
Referensi :
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- World Health Organization. Guideline: Sugars intake for adults and children. Geneva: WHO; 2015.
- World Health Organization. Carbohydrate intake for adults and children. Geneva: WHO; 2023.
- Bundeszentrum für Ernährung (BZfE). (2024). Ernährungspyramide: Was esse ich? Bonn: Bundeszentrum für Ernährung.

No responses yet