MENANAMKAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA ANAK – Part 2

Tips-Tips Untuk Mengembangkan Kecerdasan Emosional :
Pada Bayi
Hubungan emosional antara bayi dan ibunya sudah ada sejak dalam kandungan. Bayi didalam kandungan bisa merasakan dan terpengaruh bila ibu berada dalam keadaan stres atau tenang. Secara kontak fisik, hubungan bayi dan orangtuanya mulai terjalin saat ayah dan ibu memberi minum, menggendong, serta mendekap saat akan menidurkan dan menentramkan bayi.
Beberapa minggu setelah lahir sampai bayi berusia 3 bulan, bayi mulai berminat dengan interaksi sosial melalui tatap muka dan tersenyum kepada orangtuanya. Sangat baik sekali bila sejak dini orangtua mulai berkomunikasi dengan bayinya misalnya ”Mama akan sedih jika kamu nangis terus”. Ungkapan emosi yang dikemukakan harus diikuti dengan apa penyebab dari munculnya emosi tersebut. Walaupun anak tidak tahu apa maksud perkataan yang didengarnya, namun hal ini akan meninggalkan kesan penting bagi anak dan menjadi suatu kebiasaan yang akan berkembang seiring dengan bertambah usianya.
Pada Balita
Dalam periode ini, anak mulai mengembangkan strategi baru untuk meredakan emosinya. Egosentrisme sangat menonjol pada usia ini, terutama pada saat ia harus mulai berinteraksi dengan teman sebayanya dan orang lain di lingkungan sosial. Biasanya pada usia 2-3 tahun, anak mulai mewujudkan tingkah laku dari apa yang mereka amati terlebih dahulu pada anggota keluarga lain. Seiring dengan perkembangan ini, anak juga sudah mampu ”bersandiwara” dimana ia tahu jika ia menangis maka apa yang dimintanya akan diberikan.
Pada usia 5-6 tahun, anak sudah mampu menyebut atau menamai emosi misalnya ”aku marah sama mama” atau ”aku takut sama tante” dan lain-lain. Dalam melatih kesadaran diri anak terhadap emosi yang sedang dirasakannya, frekuensi berkomunikasi antara orangtua dan anak mengenai emosi sangat penting. Bila orangtua sering mengajak anak berbincang tentang emosi, anak akan lebih terbantu mengenal emosinya sendiri misalnya orangtua dapat mengatakan sebagai berikut ” sepertinya adik sedang senang yach…?”
Latihan akan lebih efektif bila diikuti dengan pengenalan tanda fisik yang menyertai emosi. Proses ini juga menjadi proses belajar bagi anak dalam mengembangkan kemampuannya untuk mengekspresikan perasaannya lewat kata-kata. Ini menjadi bagian penting dalam tahap perkembangan kemampuan bahasanya, terutama untuk mengekspresikan perasaannya secara tepat. Sebaiknya orangtua mendampingi anak saat ia salah mengartikan ekspresi emosi atau perasaannya.
Pada Anak Usia Sekolah
Anak mulai mampu melihat segala hal sesuai dengan perspektif dan perilaku orang lain yang disebut juga empati. Anak telah memahami bahwa orang dapat mengalami lebih dari satu emosi misalnya senang dan khawatir pada saat yang bersamaan. Mereka juga mampu mengintegrasi ekspresi wajah, tingkah laku, dan situasi untuk menyimpulkan emosi apa yang terlibat.
Pada usia sekolah anak mulai melakukan kegiatan di luar rumah, senang bepergian, bertemu dengan teman baru, dan menghabiskan waktu di berbagai lingkungan. Interaksi anak dengan lingkungan sosial lebih luas dan lebih kompleks yaitu keluarga, teman, guru, aktivitas sekolah, bermain, dan olahraga. Dengan demikian anak mulai belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan harapan dan tuntutan masyarakat. Untuk perkembangan emosinya, anak mulai mampu mengekspresikan perasaannya sesuai dengan norma dan nilai sosial di lingkungannya secara lebih fleksibel dan lebih terdiferensiasi. Anak juga mulai mengenal emosi diri dan emosi orang lain, serta dapat mengontrol emosi-emosi negatifnya. Pada masa ini anak belajar mengenali apa yang membuat mereka marah, takut, atau sedih, dan bagaimana orang lain bereaksi bila ia menampilkan emosi-emosi ini.
Pada Remaja
Kemampuan berpikir anak pada usia remaja tentu saja sudah mengalami peningkatan yang membedakannya dari usia sebelumnya, dimana ia sudah mampu berpikir abstrak dan mampu menyusun beberapa alternatif untuk suatu masalah atau emosi yang dirasakan. Remaja juga sudah memiliki perangkat nilai-nilai dan norma-norma sosial yang harus diikutinya serta mengetahui konsekuensi jika ia melanggarnya. Pertumbuhan secara fisik dan seksual, serta perkembangan kognitif dan sosialnya menjadi pendorong bagi remaja untuk mulai memutus keterikatan emosinya dengan orangtua dan mulai beralih kepada lawan jenisnya. Idealistik menjadi satu hal yang menonjol, dimana remaja memiliki gambaran yang ideal bagi dirinya, pendapat yang benar menurut dirinya, dan lain-lain. Hal ini yang seringkali menjadi pemicu dari keributan dan perselisihan antara seorang remaja dengan orangtuanya yang juga memiliki pemikiran sendiri dan pengalaman yang lebih banyak.
Untuk menghindarinya, penting bagi orangtua untuk memahami gejolak yang terjadi dalam diri remaja, menjadi seorang teman yang bisa diajak berdiskusi, menerima dirinya apa adanya, serta tidak menyalahkan. Orangtua harus peka terhadap emosi yang terlihat pada diri remaja, serta membuka komunikasi untuk mengetahui apa yang sedang dirasakan dan apa yang menjadi penyebabnya.
Terima kasih, tulisan ini sangat membantu kami orang tua dalam mendidik anak, kami berharap agar tulisan seperti ini bisa ditambah lagi………..