Agar semakin disayang suami – PART 1

Oleh Ustadzah Ida Nur Laila
Menjadi istri kesayangan dari seorang suami penyayang, sholih dan setia, siapa mau? Ah iya kita para istri, semuanya mau. Mau banget!
Seperti apa sih istri kesayangan itu?
Kira2 lho, yang menjadi prioritas bagi suami, yang tak akan disakiti, yang kepentingannya diperhatikan dan didahulukan, yang kata2nya diturut, yang dipercaya, yang selalu diajak dalam setiap urusannya dan tentu yang dicintai sehidup sesurga.
Apakah ada lelaki yang berlaku demikian? Tentu!
Kita punya panutan Rasulullah, kita punya teladan para ulama yang sholih.
Yaah, mereka kan hidup di masa lalu, apakah jika lelaki masa kini, bisa demikian?
Insya Allah, tuntunan Islam tentang rumah tangga bisa dilaksanakan kapanpun dan sunatullahnya akan menghasilkan output yang sama, apakah jaman dulu maupun jaman now selama s dan k berlaku.
Apa itu s dan k? S dan K yaitu Syarat dan ketentuan.
Kita tak bisa berharap kebaikan, tanpa mengusahakan kebaikan. Kita tak bisa berharap memanen, tanpa menanam benih.
Ada 8 Formula yang dapat dipraktekkan seorang istri agar semakin disayang oleh suami, yaitu :
Satu, pilih suami dengan benar dan tepat
Dua, pantaskan diri
Tiga, taat
Empat, akhlak yang mempesona
Lima, muliakan suami
Enam, bersabar dengan proses
Tujuh, taqwa
Delapan, tawakal
Formula satu, pilih suami dengan benar yang tepat.
Formula satu ini tidak hanya untuk yang masih sendiri, namun juga bagi yang sudah menikah karena bisa menjadi bahan flashback, mengingat bagaimana dulu proses mendapat suami.
Lalu bagaimana memilih suami dengan benar? Pertama, memperbaiki diri sendiri. Memperbaiki diri itu artinya kita tengah merajut aroma yang mengundang lelaki yang bagus agamanya. Karena bukan hanya lebah, ngengat, kumbang dan kupu-kupu yang memilih bunga. Akan tetapi, bunga menaburkan aroma untuk mengundang serangga yang diinginkannya. Jadi saling. Perempuan, memiliki hak berusaha mengundang jodoh terbaik.
Bagi Anda yang sudah menikah, bisa melakukan sedikit flashback, apakah dulu Anda melakukan langkah yang benar dan tepat?
Formula kedua yaitu pantaskan diri.
“Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman.” (QS. Al-Baqarah: 221).
Untuk Anda yang masih lajang, hayuuk pantaskan diri menjemput jodoh terbaik.
Ingin suami taat pada Allah, taatlah pada Allah. Ingin suami rajin ibadah, rajin ngaji, rajinlah ibadah dan ngaji. Ingin suami dermawan dan penyayang, jadilah dermawan dan penyayang. Ingin suami sopan santun, jadilah perempuan yang juga sopan santun. Begitulah memantaskan diri.
Lanjut jika sudah menikah. Ingin suaminya baik, perhatian, penuh cinta. Lakukan dulu. Prinsipnya adalah ibda’ binafsik yaitu Mulailah dari diri sendiri memantaskan diri, melayakkan diri.
*Jangan menuntut, mari menuntun suami.*
Seperti contohnya, jika Anda menginginkan suami yang mendengarkan omongan kita, maka dengarkan dulu pembicaraan suami. Ingin suami berbakti kepada orang tua kita, maka berbaktilah dulu kepada mertua, dan seterusnya. Jadilah cermin positif dari pasangan. Biarlah ia berkaca pada kebaikan kita.
Di otak manusia, ada serangkaian sel-sel otak khusus yang disebut Mirror Neuron (Neuron Cermin). Teorinya mengatakan bahwa bila kita melihat orang melakukan suatu tindakan yang menjadi perhatian kita, Neuron Cermin akan berusaha pula meniru tindakan itu. Reaksi tak diinginkan itu jelas menandakan aktivitas dari sesuatu yang disebut “neuron cermin” dalam otak. Neuron cermin melakukan hal itu, neuron ini memantulkan kembali tindakan yang kita lihat pada orang lain, membuat kita meniru tindakan atau terdorong untuk melakukan hal itu. Bagian Neuron melakukan seperti apa yang dilakukannya adalah mekanisme otak yang menjelaskan pepatah lama, “Bila engkau tersenyum, semua orang tersenyum bersamamu”.
Teori ini ditemukan dan mulai dikembanhkan pada tahun 1992, dan sudah diujikan pada manusia.
Demikianlah jauh berabad sebelumnya Rasulullah memesankan tentang hal ini. Seorang muslim adalah cermin bagi saudaranya. Coba kita perhatikan ketika kita melihat kaca, lalu melihat ada sesuatu yang kotor di tubuh kita di cermin tersebut, maka tentu kita akan bersihkan. Hasil cerminan itulah orang terdekat kita. Memperbaiki diri kita, maka bayangan kita pun akan menjadi baik. Maka pantaskan diri mendapat cinta terbaik selamanya dari suami dengan menjadi perempuan sholihah. Tempuhlah jalan menuju sholihah dengan memperbaiki aqidah, ibadah dan akhlak kita.
formula ketiga. Tha’at.
Seorang perempuan saat belum menikah tha’at dan baktinya untuk orang tua, adapun setelah menikah, ketaatan ia alihkan pada suami, adapun pada orang tua, teruslah berbakti hingga batas usia diri. Thaat ini ada syarat hanya dalam kethaatan pada Allah, bukan dalam hal makshiyat. Tunjukkan ketaatan itu dalam sikap, kata dan perbuatan. Tunjukkan ketulusan dengan verbal dan non verbal hingga suami yakin seyakin-yakinnya dengan bahwa istrinya perempuan yang taat padanya. Jika anda perempuan yang biasa mandiri, mungkin agak berat memulai membuka ruang intervensi untuk suami. Namun ini harus, sediakan posisi suami untuk mengatur hidup kita, begitulah cara mengundang rahmat dan keberkahan dalam keluarga. Mungkin pada masa lajang perempuan punya mimpi – mimpi yang banyak, saat sudah menikah, suami istri saling meleburkan mimpi menjadi mimpi bersama. Komunikasikan jika ingin melanjutkan mimpimu agar menjadi keputusan bersama. Setiap rencana dan langkah baru, mintalah pendapat dan persetujuan suami. Jangan langkahi wewenangnya dengan mengambil keputusan sendiri.
Bagi jomblo ada baiknya pada masa taaruf, dialognya diperdalam, tentang akan tinggal dimana, akan bekerja atau tidak, akan melanjutkan sekolah atau tidak, bagaimana pengelolaan keuangan keluarga dan hal-hal yang spesifik sesuai dengan situasi masing-masing. Dengan demikian meminimalkan konflik pasca menikah.
Formula 4.
Akhlak yang mempesona hingga suami kagum dan bangga padamu.
Akhlak adalah karakter spontan, yang mudah mengalir tanpa dipikir-pikir. Inilah yang nampak dan bisa dirasakan oleh orang lain, terutama orang terdekat.
Orang jauh seringkali melihat kita dengan topeng dan jaim kita, karena hanya bertemu sesaat dan telah dipersiapkan.
Namun suami, 24 jam bersama kita, melihat bagaimana kita bangun dan tidur, kita polos dan berdandan, kita bicara atau mengigau, kita tersenyum atau cemberut.
Maka upayakan ia melihat hanya keindahan akhlak, karena kita tak sanggup berpura-pura sepanjang hidup kita.
Mari belajar mengatur wajah agar selalu cerah. Cantik itu relatif, tapi pandangan mata penuh cinta dapat kita upayakan. Suara bisa jadi tak semerdu penyanyi, tetapi rangkaian kalimat yang menyejukkan tentulah dapat diupayakan.
Jika emosi negatif sedang menyerang, segeralah beristighfar dan berusaha mengendalikan, jangan sampai ia menguasai. Lebih baik diam saat marah, sembari mengatur wajah agar tetap sedap dipandang.
Jangan meninggikan suara di hadapan suami, tetaplah merendah sekalipun engkau dikaruniai berbagai kelebihan.
Muliakan suami dan keluarganya, terutama ibunya itulah bagian dari meraih kesempurnaan cinta suami. Teruslah istiqomah, maka suami akan kagum dan bangga padamu
Formula 5. Muliakan suami
Jadikan ia raja, maka ia akan menjadikanmu ratu.
Pahami bahasa cinta suami untuk langkah yang efektif dan efisien dalam mengekspresikan cinta.
Apa itu bahas cinta? Apa saja formula ke-enam, ketujuh, dan yang kedelapan agar semakin disayang suami? Itu semua akan dibahas lebih lanjut pada artikel “Agar semakin disayang suami PART 2”
Dirangkung dari Seminar Online hasil kerja sama Komunitas
*Muslimah Hebat Community* dengan *Wonderful Agency* pada tanggal 10 januari 2019