Agar semakin disayang suami – PART 2

Menurut teori Gary Chapman, setiap kita punya tangki cinta yang harus diisi dengan bahan yang tepat. Memahami bahasa cinta membuat kita dapat memenuhi tangki cinta pasangan dengan lebih cepat.
Apa itu bahasa cinta?
Setiap manusia punya hal tertentu yang jika ia menerima itu maka akan merasakan kegembiraan dan kebahagiaan yang sangat.
Dari hasil riset Gary Chapman ada lima bahasa cinta.
1. Kata2 apresiasi
2. Waktu berkesan
3. Sentuhan fisik
4. Hadiah
5. Pelayanan.
Bagaimana mengetahui tipe bahasa cinta pasangan anda?
Berikut saya kutipkan artikel pak Cah untuk tema ini.
Tentu ada sangat banyak cara untuk mengetahui tipe bahasa cinta pasangan. Paling tidak, lima cara berikut ini bisa anda coba salah satu, atau lebih dari satu, atau keseluruhannya, yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi.
_Pertama, dengan komunikasi dan interaksi yang nyaman_
Bisa dimaklumi bila pasangan pengantin baru belum mengetahui tipe bahasa cinta pasangan. Hal itu disebabkan mereka masih saling mengenal dan baru belajar untuk memahami satu dengan yang lain. Wajar jika belum mengetahui tipe bahasa cinta pasangannya. Seiring berjalannya waktu, mereka saling berinteraksi dan berkomunikasi setiap hari, maka akan semakin membuka jati diri masing-masing. Lapis-lapis kepribadian terbuka satu demi satu, hingga mereka berdua semakin mengerti dan memahami pasangan dengan lebih baik. Interaksi dan komunikasi yang terbangun dengan nyaman, membuat mereka mudah mengerti apa harapan dan keinginan pasangan.
_Kedua, dengan mengamati langsung_
Orang Jawa punya istilah khas untuk bab ini, yaitu : niteni. Pasangan suami istri, sekian lama berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari, tentu saling mengamati dan memperhatikan. Jika sudah lebih dari tiga tahun, apalagi sudah lebih dari lima tahun hidup berumah tangga, merupakan waktu yang cukup untuk melakukan pengamatan. Hal apa yang paling membahagiakan pasangan, hal apa yang paling diharapkan, hal apa yang paling membuat dirinya berbunga-bunga. Aktivitas sehari-hari secara normal dan natural, menjadi obyek untuk diamati secara cermat. Cara pertama dan cara kedua ini merupakan langkah yang bersifat alami dan tidak dibuat-buat. Benar-benar dari hasil interaksi, komunikasi serta pengamatan langsung.
_Ketiga, dengan mencoba-coba atau experience_
Cara ketiga ini sudah melibatkan sisi ‘percobaan’. Suami dan istri bisa dengan sengaja mencoba berbagai tindakan untuk melihat respon pasangan atas tindakan tersebut. Apakah ada perbedaan yang signifikan antara satu tindakan dengan tindakan yang lainnya, apakah ada tindakan yang tampak direspon secara paling istimewa. Tindakan pertama misalnya menggelontori dengan banyak kata-kata mesra dan kalimat pujian selama masa tertentu, dan dievaluasi responnya. Tindakan kedua, dengan selalu menemani dan membersamai. Tindakan ketiga, dengan banyak memberikan bantuan dan pelayanan. Tindakan keempat dengan memperbanyak hadiah. Tindakan kelima dengan memperbanyak sentuhan fisik yang lembut. Lihatlah respon pasangan atas berbagai tindakan tersebut.
_Keempat, dengan bertanya kepada pasangan_
Cara to the point dan tidak berbelit-belit adalah dengan langsung bertanya kepada pasangan. Misalnya suami bertanya kepada istri, “Dek, apa tipe bahasa cinta kamu?” Atau istri bertanya kepada suami, “Bang, tipe bahasa cinta kamu yang mana?” Pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh suami atau istri yang sudah mengetahui konsep tentang lima bahasa cinta. Jika belum mengetahui konsepnya, tentu tidak akan bisa menjawab pertanyaan to the point tersebut. Apabila suami atau istri belum mengerti konsep bahasa cinta, harus diajak membaca teorinya atau bahkan ikut pelatihannya, sehingga bisa mengerti maksudnya dan bisa memberikan jawaban yang tepat.
_Kelima, dengan membuka diri dihadapan pasangan_
Cara kelima juga termasuk to the point dan tidak berbelit-belit. Tidak perlu menunggu pasangan bertanya, namun langsung membuka diri dihadapan pasangan. Misalnya sang istri mengatakan, “Bang, aku adalah perempuan dengan tipe bahasa cinta sentuhan fisik. Aku sangat senang dengan semua bentuk sentuhan penuh cinta darimu”. Atau, suami menyatakan, “Dek, aku adalah lelaki dengan tipe bahasa cinta waktu berkesan. Aku sangat senang kalau engkau selalu menemani kegiatanku”. Ini membuat pasangan tidak perlu lagi bertanya-tanya, karena sudah dibuka langsung di hadapannya.
Dua cara yang pertama adalah yang paling alami. Dua cara yang terakhir adalah yang paling to the point tanpa basa basi. Cara ketiga merupakan cara yang melibatkan sisi seni untuk mengerti dan memahami. Cara manapun yang anda tempuh untuk mengetahui tipe bahasa cinta pasangan tidak menjadi masalah. Karena ujung yang diharapkan adalah, baik suami maupun istri mengetahui tipe bahasa cinta diri dan pasangannya. Yang menjadi masalah adalah apabila anda dan pasangan sama-sama saling tidak peduli, saling tidak mengerti, saling tidak memahami. Ditambah lagi tidak ada usaha untuk lebih mengerti dan lebih memahami. Inilah yang akan membuat tumpukan masalah.
Buatlah ia terpesona setiap hari, jadikan ia tak ada kesempatan mencela sebab engkau tidak tercela. Jadikan ia sejuk memandangmu, dan jadikan ia bangga berdiri di sampingmu.
Jadikan ia merindu saat jauh darimu, semua itu dengan pesona akhlakmu.
Mari kita lanjut formula ke-enam dari 8 formula agar semakin disayang suami.
Formula 6, bersabar dalam proses.
Taqdir kita, kitalah yang lebih berhak menuliskannya dengan izin Allah. Ibaratkan diri kita dengan pensil, jangan dengan pulpen atau spidol.
Pensil akan menuliskan dengan bersahaja apa yang menjadi cerita kita. Saat kita salah menuliskan, kita dapat menyetip dengan penghapus.
Namun ingat, kadang pensil mulai tumpul dan butuh diraut dengan rautan yang tajam.
Saat itulah Allah menguji kita dengan masalah untuk membuat kita lebih baik, lebih tajam dan lebih produktif.
Maka bersabarlah saat menemukan kesalahan, bersabarlah untuk menghapus dan menulis ulang kisahmu.
Bersabarlah saat harus diraut oleh tajamnya silet yang menyakitkan. Engkau tengah menjalani metamorfosa menuju kebaikan.
Ada lima tahapan kehidupan rumah tangga menurut teori Dawn.
Berikut dituliskan dalam versi pak Cah.
Tahap pertama : Romantic Love.
Pada tahap ini pasutri sama-sama merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu. Hal ini terjadi di saat awal-awal masa pernikahan, yang banyak disebut orang sebagai bulan madu. Suami dan istri berada dalam suasana kegairahan cinta yang membara, ingin selalu bersama, merasakan ikatan yang sangat kuat di antara mereka, tidak mau ada yang memisahkan mereka.
Pasutri selalu ingin melakukan kegiatan bersama-sama dalam situasi romantis dan penuh cinta. Makan bersama, olah raga bersama, jalan-jalan, belanja, memasak, membersihkan rumah, tidur, bahkan mandi bersama. Mereka berdua seakan menikmati surga dunia yang sangat indah dan serba menyenangkan. Istilah “mawaddah” dalam ungkapan sakinah, mawadah wa rahmah, tepat untuk menggambarkan situasi asmara yang menggebu ini.
Tahap kedua : Disappointment or Distress.
Jika romantic love membuat pasutri serasa berada di atas awan indah, maka pada tahap disappointment ini mereka merasa mulai turun ke bumi. Mulai melihat realitas-realitas hidup yang sesungguhnya, dan mulai melihat adanya cela pada pasangan. Saat mengalami tahap romantic love, berbagai kesalahan kecil bahkan tampak sebagai kelucuan yang menggemaskan, dan ditertawakan bersama. Berbeda dengan saat memasuki tahap kedua ini.
Pada tahap kedua, pasutri mulai saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa terhadap pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya. Kadang suami atau istri berusaha untuk mengalihkan perasaan stres yang memuncak akibat konflik dengan pasangan ini dengan curhat kepada orang lain, bahkan kembali menjalin hubungan dengan mantan, atau mencurahkan perhatian ke pekerjaan, hobi, anak, organisasi, atau hal lain sesuai minat masing-masing.
Jika tidak dikelola dengan baik tahapan ini bisa membawa pasutri ke dalam situasi yang negatif dalam hubungan dengan pasangannya. Beberapa orang yang gagal melalui tahap ini memilih berpisah dengan pasangannya.
Tahap ketiga : Knowledge and Awareness.
Tahap ketiga ini bercorak dewasa. Ada perenungan dan kesadaran pada diri suami dan istri untuk memiliki kualitas hidup berumah tangga yang lebih baik.
Pasutri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi diri dan pasangannya. Mereka sibuk mencari informasi tentang bagaimana kebahagiaan pernikahan itu terjadi. Biasanya mereka lakukan dengan berdiskusi, membaca artikel, meminta kiat-kiat kebahagiaan rumah tangga kepada pasangan lain yang lebih tua atau mengikuti seminar-seminar dan bahkan konsultasi perkawinan.
Tahap keempat: Transformation.
Tahap keempat bercorak kematangan hubungan. Jika pencarian informasi tentang kebahagiaan pernikahan itu berhasil mereka dapatkan, maka akan membuat mereka semakin menghayati makna kehidupan berumah tangga. Mulai tumbuh penghormatan dan pemuliaan yang tulus kepada pasangan.
Suami dan istri pada tahap ini akan berusaha melakukan perbuatan yang mampu membahagiakan hati pasangannya. Suami dan istri akan berusaha membuktikan bahwa dirinya adalah sahabat yang tepat bagi pasangannya. Dalam tahap ini sudah berkembang sebuah pemahaman yang menyeluruh antara satu dengan yang lainnya dalam mensikapi perbedaan dan konflik yang terjadi.
Saat itu, suami dan istri akan saling menunjukkan penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan perkawinan yang bahagia.
Tahap kelima: Real Love.
Tahap kelima ini bercorak kesejiwaan antara suami dan istri. Istilah “rahmah” tepat untuk menggambarkan situasi hubungan pasutri pada tahap real love ini.
Pada tahap kelima ini, pasutri akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan. Waktu yang tersisa akan mereka habiskan untuk saling memberikan perhatian satu sama lain. Suami dan istri semakin menghayati cinta kasih pasangannya sebagai realitas yang menetap. Inilah cinta yang dewasa, cinta yang penuh makna dan kesungguhan jiwa.
Untuk mencapai tahap ini tidaklah sulit, sepanjang ada usaha bersama dari kedua belah pihak. “Real love sangatlah mungkin untuk anda dapatkan bersama pasangan jika anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Real love tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa usaha dari anda berdua,” ungkap Dawn.
Pasutri harus bersabar dalam melewati berbagai proses dan tahapan kehidupan pernikahan. Jadikan keutuhan, keharmonisan dan kebahagiaan hidup berumah tangga menjadi bagian yang diutamakan oleh kedua belah pihak, sehingga suami dan istri selalu berusaha untuk mewujudkannya.
“Jangan hancurkan hubungan pernikahan anda dengan pasangan hanya karena merasa tak sesuai atau sulit memahami pasangan. Anda hanya perlu sabar menjalani dan mengulang tahap perkembangan dalam pernikahan ini. Jadikanlah kelanggengan pernikahan anda berdua sebagai suatu hadiah berharga bagi diri sendiri, pasangan, dan juga anak”, tutur Dawn.
Jika memang menghendaki suasana real love, pasutri harus saling membantu dan saling menguatkan satu sama lain. Bersabar atas apa yang tidak sesuai harapan dirinya, dan selalu membuka ruang komunikasi yang sehat, ruang permaafan yang luas, ruang toleransi yang lapang, sehingga semua tahap bisa dilalui dengan selamat.
Formula tujuh, taqwa.
Mengapa tetiba saya masukkan taqwa?
Tahukan manteman, taqwa adalah rahasia menemukan jalan keluar atas setiap persoalan hidup. Taqwa juga pembuka pintu rejeki dan kebahagiaan.
Adakah orang hidup tanpa masalah?
Adakah keluarga tanpa masalah? Tak ada.
Maka, mari menemukan jalan keluar dengan pertolongan Allah, yakni dengan takwa.
Allah Ta’ala berfirman:
{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)”
Yakinlah, ada jalan keluar dalam setiap masalah. Ada jodoh jalan keluar untuk kesulitan, bahkan dua jalan keluar.
Yang dibutuhkan adalah yakin, sabar, terus bergerak dan mendaki jalan taqwa.
Memang taqwa itu apa sih? Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan kita penjelasan menarik mengenai pengertian takwa. Beliau rahimahullah berkata,
“Takwa adalah seseorang beramal ketaatan pada Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya dan ia meninggalkan maksiat karena cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan siksa-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan diri pada Allah selain dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Aku cintai. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” Inilah hadits shahih yang disebut dengan hadits qudsi diriwayatkan oleh Imam Bukhari.” (Al Majmu’ Al Fatawa, 10: 433)
Dengan taqwa ini anda memiliki kekuatan spiritual untuk menyelesaikan persoalan.
Dengan taqwa anda memiliki pesona spiritual untuk menaklukkan suami.
Sebab Allah akan melunakkan hati manusia.
Masya Allah, jika Allah yang berikan perintah dan dukungan, maka suami tentu dengan senang hati akan menyayangi kita.
Formula 8. Tawakal.
Bersama dengan semua usaha, mari berdoa dan bertawakal pada Allah.
Tiada daya dan kekuatan kecuali milik Allah. Demikian pula harapan untuk menjadi istri tersayang, semua falam sekenatio dan genggaman Allah.
Yakinlah bahwa balasan kebaikan adalah kebaikan.
Yakinlah bahwa Allah tak pernah salah menghitung dan tak pernah lupa.
Maka tak akan ada kebaikan yang menguap begitu saja.
Anda sholihah, penyayang, memuliakan suami dan berakhlak mulia, apakah Allah akan menguji anda dengan suami yang dzalim?
Maka ingatlah kisah Asiyah istri fir’aun. Sekalipun firaun kafir dan lalim, namun tetaplah Asiyah dapat menaklukannya. Tentu dengan dukungan Allah.
Adapun makna tawakal menurut Imam Ahmad bin Hambal.
Tawakal merupakan aktivias hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan. (Al-Jauzi/ Tahdzib Madarijis Salikin, tt : 337)
Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ yang memiliki arti; menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. (Munawir, 1984 : 1687). Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT.
Dirangkung dari Seminar Online hasil kerja sama Komunitas
*Muslimah Hebat Community* dengan *Wonderful Agency* pada tanggal 10 januari 2019