Berpikir Positif dan Kegigihan*

Kesuksesan tidak akan datang jika kita menyerah kalah saat kegagalan menyapa kita. Anda pasti tahu bagaimana gigihnya Nabi dan kaum muslimin memperjuangkan Islam. Dari dakwah sembunyi-sembunyi, dakwah terang-terangan, hijrah, perang hingga penaklukan Makkah. Freud memulai pendidikannya dengan ketertarikan pada kokain, berguru pada Jean Martin-Charcot, menjadi dokter saraf di Wien hingga melakukan penelitian-penelitian untuk mengungkap struktur kepribadian manusia. Christopher Columbus harus berjuang selama 14 tahun hingga berhasil mengumpulkan awak kapal dan pemberi dana bagi ekspedisinya. Thomas Alva Edison melakukan percobaan hingga ratusan kali sebelum akhirnya dapat menyalakan lampu pertama di dunia. Coba bayangkan seandainya Rasul menyerah kalah pada kaum Quraisy atau Edison menyerah pada percobaannya yang ke-10. Dunia akan tetap gelap baik dalam pengertian konotatif, maupun dalam artian denotatif.
Kita terkadang tidak memberi kesempatan pada diri sendiri untuk berpikir positif terhadap kegagalan. Saat semua berjalan tidak sesuai rencana, kita merasa tidak ada gunanya mencoba lagi. Letak kegagalan kita yang sebenarnya bukan pada saat kita dipecat, namun pada saat kita menjadikan momen pemecatan itu untuk memberikan penilaian negatif pada diri sendiri atau orang lain. Di saat kita tidak mencapai apa yang kita inginkan, namun kita belajar dari pengalaman sebelumnya dan terus berusaha, itulah awal keberhasilan.
Manusia, sehebat apa pun dia pasti pernah melakukan kesalahan. Orang –orang hebat adalah mereka yang mampu mengambil sisi positif dar kegagalannya dan menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran di masa yang akan datang. Tidak ada orang hebat yang tidak pernah gagal, percayalah itu. Karena itu jika sekarang Anda mengalami kegagalan, Anda dapat meyakinkan diri sendiri bahwa Anda tengah belajar untuk menjadi orang hebat.
Kegigihan memang perlu perjuangan, juga pengorbanan. Mahatma Gandhi bahkan dibunuh oleh seorang fanatik yang tidak menyukai ajarannya yang anti kekerasan. Namun hingga kini namanya masih dikenang oleh banyak orang. Tidak mudah memang mengaktifkan pemikiran positif, apalagi saat mengalami kegagalan. Saat untuk pertama kalinya bangkrut, kita akan melihat dunia seperti mau kiamat. Saat pertama kali patah hati, sepertinya hidup menjadi tak ada artinya. Di sebuah asrama mahasiswa kota Frankfurt bahkan kejadian mahasiswa lompat dari lantai 9 gedung ini menjadi biasa. Penyebabnya satu : mereka tidak lulus ujian dan terancam dikeluarkan dari Universitas.
Terkadang kita meletakkan satu tujuan di atas segala-galanya, tanpa rencana cadangan. Kita hanya manusia. Kita tidak dapat memastikan segalanya akan seperti rencana atau tidak. Karena itu jika rencana awal tidak berhasil maka susunlah rencana lain dengan lebih matang. Tanpa ijazah pun kita masih bisa menjadi ‘seseorang’. Tahukah Anda Bill Gates, sang raja Microsoft juga dikeluarkan dari Universitas Harvard?
Kita juga terkadang melupakan bahwa ada campur tangan Allah dalam segala sesuatu. Kegagalan yang kita alami saat ini mungkin merupakan nasehat dari-Nya agar kita melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Salah satu bukti kepercayaan Allah kepada hamba-Nya adalah melalui kesulitan. Banyaknya kesulitan yang kita lalui merupakan pertanda Allah percaya bahwa kita mampu untuk melewatinya.
Sejak kecil, Allah telah memberikan kita masalah untuk dipecahkan. Tidak percaya? Cobalah ingat-ingat lagi saat Anda berumur 8-9 bulan. Tidak bisa? Kalau begitu cobalah lihat bayi yang sedang belajar belajar berdiri. Saat pertama kali mencoba berdiri, ia terjatuh. Kedua kali mencoba, tetap jatuh. Ketiga kali juga demikian dan seterusnya. Terkadang setelah jatuh ia menangis kesakitan, bahkan beberapa kali kulitnya terluka karena berusaha berdiri. Namun ia tidak pernah berhenti berusaha, mencoba dengan cara yang berbeda, hingga suatu hari ia mampu berdiri tanpa bantuan siapa pun. Percayalah, dulu Anda pun gigih berusaha untuk beridir seperti bayi tersebut.
Jika Anda masih meragukan betapa kegagalan bukanlah penghalang mencapai kesuksesan yang Anda impikan, renungkanlah biografi singkat yang dikutip dari Rosalene Glickman dalam bukunya Bestmögliches Denken berikut ini.
Usia 23 tahun : pemilihan pertama yang gagal
Usia 25 tahun : bangkrut untuk kedua kalinya
Usia 26 tahun : tunangan meninggal
Usia 29 tahun : kalah dalam pemilihan
Usia 34 tahun : kalah dalam pemilihan Kongres
Usia 37 tahun : kalah dalam pemilihan Konggres
Usia 39 tahun : kalah dalam pemilihan Konggres
Usia 46 tahun : kalah dalam pemilihan Senator
Usia 47 tahun : kalah dalam pemilihan Wakil Presiden
Usia 49 tahun : kalah dalam pemilihan Senator
Usia 51 tahun : terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat
Orang ini adalah Abraham Lincoln.
Anda bisa menghitung sendiri berapa kali Lincoln gagal dalam pemilihan namun ia tidak pernah menyerah, bahkan di usia ke-51 ia tetap mengikuti pemilihan umum dan akhirnya menjadi presiden ke-16 Amerika Serikat.
Dalam hidup kegagalan adalah biasa, namun perspektif kita yang positif terhadap kegagalan akan mengubah kita menjadi orang yang luar biasa. Apa pun jalan yang Anda pilih untuk mencapai kesuksesan semuanya memiliki resiko, karena adanya resiko inilah kehidupan Anda menjadi lebih hidup.
* Diambil dari Buku „Taklukkan Takdirmu (2T): Mengubah Nasib dengan Mengaktifkan Gen Positif Anda“, Penulis: Rusdin S. Rauf & Shally Novita. Penerbit Hikmah (PT Mizan Publika), 2008
** Shally Novita adalah salah satu nara sumber rubrik Konsultasi Psikologi Kharisma. Saat ini, merupakan kandidat PhD bidang Psikologi Universitas Leipzig, Jerman dengan tema penelitian: “Simptom-Simptom Sekunder pada Anak Disleksia“.